Sejarah Nabi Muhammad SAW: Dari Lahir Hingga Wafatnya Sang Rasul


Nabi Muhammad SAW, sosok yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam, menjalani kehidupan yang penuh dengan pelajaran berharga. Kisah hidupnya yang penuh dengan kebijaksanaan, ketabahan, dan kesabaran memberikan contoh abadi bagi setiap Muslim. Sejak kelahirannya hingga wafatnya, perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW menyimpan banyak hikmah yang patut kita teladani.


Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal di tahun 571 Masehi, yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Tahun ini diabadikan dalam sejarah karena pasukan gajah pimpinan Abrahah yang hendak menyerang Ka'bah dihancurkan oleh burung ababil, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Fil. Beliau lahir dari pasangan Abdullah dan Aminah, namun sayangnya, ayahnya meninggal dunia sebelum beliau dilahirkan. Muhammad SAW dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian diasuh oleh Halimah Sa'diyah, seorang wanita yang dengan keikhlasannya, Allah karuniakan kelimpahan air susu saat menyusui Nabi kecil.

Semasa kecil, Nabi Muhammad SAW tumbuh sebagai anak yatim. Meskipun kehilangan ayah dan di usia 6 tahun ibunya meninggal, beliau tetap berada dalam asuhan kakeknya. Saat kakeknya wafat, pamannya, Abu Thalib, mengambil alih tanggung jawab merawatnya. Meskipun tumbuh dalam keterbatasan, Nabi menunjukkan sikap yang mulia sejak kecil, dikenal dengan kecerdasannya serta kejujurannya.

Ketika remaja, Nabi Muhammad SAW menjaga dirinya dari perbuatan buruk yang umum terjadi di kalangan anak muda pada zamannya. Ada sebuah kisah di mana beliau dua kali mencoba menghadiri pesta pernikahan di masa Jahiliyah, namun Allah SWT menutup pendengarannya sehingga beliau tertidur hingga pagi dan terhindar dari keburukan.


Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah

Pada usia 25 tahun, Nabi Muhammad SAW mulai berdagang bersama seorang wanita kaya raya bernama Khadijah. Khadijah, yang terkesan dengan kejujuran dan integritas Muhammad, akhirnya melamar beliau melalui sahabatnya, Nafisah binti Umayyah. Pernikahan mereka menjadi simbol kebahagiaan dan cinta yang tulus, dengan Khadijah mendukung perjuangan dakwah Nabi hingga akhir hayatnya.

Pada usia 40 tahun, saat Nabi Muhammad SAW sedang beribadah di Gua Hira, beliau menerima wahyu pertama dari Allah melalui Malaikat Jibril. Ayat pertama yang diturunkan adalah Surah Al-'Alaq ayat 1-4, yang memulai peran beliau sebagai Rasul terakhir. Peristiwa ini menjadi titik awal dakwah Islam, yang kemudian disebarluaskan secara perlahan di kalangan keluarga terdekatnya.
Setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW mulai berdakwah secara terang-terangan. Meskipun mendapat dukungan dari sebagian kecil keluarga dan sahabat, dakwah beliau mendapat tantangan besar dari kaum Quraisy. Mereka menentang ajaran Islam karena khawatir hal tersebut akan merusak agama nenek moyang yang menyembah berhala. Abu Jahal dan Abu Lahab, dua tokoh Quraisy, termasuk yang paling vokal menentang Nabi, bahkan mereka tidak segan-segan menyebar fitnah dan melakukan kekerasan terhadap Nabi dan para pengikutnya.

Karena tekanan yang semakin besar di Mekkah, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya akhirnya melakukan hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Di sana, Nabi diterima dengan baik dan mulai membangun masyarakat Islam yang kuat. Pada tahun kedua Hijriah, perintah zakat dan kurban mulai disampaikan kepada umat Islam sebagai bagian dari ajaran untuk berbagi dan membantu sesama.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Pada bulan Shafar tahun 11 Hijriah, Nabi Muhammad SAW mulai jatuh sakit. Beliau menderita demam tinggi selama beberapa hari hingga akhirnya berpulang ke rahmatullah pada usia 63 tahun di pangkuan istrinya, Aisyah. Rasulullah wafat pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awal, hari yang sama dengan kelahirannya. Kewafatan beliau merupakan duka yang mendalam bagi seluruh umat Islam, namun ajaran dan teladannya terus hidup hingga kini.

Mukjizat Nabi Muhammad SAW

Allah SWT memberikan mukjizat luar biasa kepada Nabi Muhammad SAW, yang tidak hanya menunjukkan kebesaran Allah, tetapi juga mendukung kebenaran ajaran Islam. Salah satu mukjizat yang paling terkenal adalah peristiwa pembelahan bulan, yang terjadi ketika kaum Quraisy menantang Nabi untuk menunjukkan bukti kenabiannya. Selain itu, mukjizat lain seperti air yang mengalir dari jari-jari Nabi dan makanan yang melimpah meskipun jumlahnya sedikit, semakin memperkuat keimanan para pengikutnya


Kelahiran Rasulullah SAW

Rasulullah saw dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan tahun gajah. Bertepatan pada tanggal 21 April 571 M. Beliau dilahirkan dari suku Quraisy, yaitu suku paling terkenal dan sangat dihormati oleh masyarakat Arab pada waktu itu. Dari suku Quraisy tersebut, beliau berasal dari Bani Hasyim, anak suku yang sangat dihormati ditengah suku Qurasiy. 

Nabi Muhammad saw lahir dalam keaadan yatim. Karena ayahanda Rasulullah saw meninggal dunia sejak nabi berada dalam kandungan ibunda tercinta dalam usia 2 bulan. Setelah lahir Nabi Muhammad saw dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian diasuh serta disusui oleh Halimah Sa'diyah, seorang wanita yang dengan keikhlasannya, Allah karuniakan kelimpahan air susu saat menyusui Nabi kecil. 

Semasa kecil, Nabi Muhammad saw tumbuh sebagai anak yatim. Meskipun kehilangan ayah dan di usia 6 tahun ibunya meninggal, beliau tetap berada dalam asuhan kakeknya. Saat kakeknya wafat saat itu nabi berusia 8 tahun,lalu dibesarkan oleh pamannya yang bernama Abu Thalib, Pamannya mengambil alih tanggung jawab untuk merawatnya. Meskipun tumbuh dalam keterbatasan, Nabi menunjukkan sikap yang mulia sejak kecil, dikenal dengan kecerdasannya serta kejujurannya.

Pada saat Rasulullah saw, Abu Thalib mengajaknya berdagang ke negeri Syam. Sesampainya di perkampungan Bushra mereka disambut oleh pendeta bernama Buhaira. Semua rombongan turun memenuhi jamuan dari sang pendeta kecuali Rasulullah SAW. Sang paman menceritakan sifat-sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW kepada Buhaira, saat itu Buhaira mengatakan bahwasannya anak ini akan menjadi pemimpin yang besar di suatu hari nanti karena sang pendeta mengetahui ciri-cirinya dari kitab-kitab yang dikaji oleh sang pendeta.

Maka pada saat itu Buhaira meminta kepada Abu Thalib untuk tidak membawa nya pergi ke negeri Syam karena khawatir kaum Yahudi yang berada disana akan mencelakai Nabi Muhammad SAW. Akhirnya Abu Thalib memerintahkan anak buahnya untuk membawa kembali Nabi Muhammad SAW ke Mekkah. 


Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Ketika dakwah sudah semakin sempurna, dan islam sudah mengendalikan keadaan, mulailah tampak tanda-tanda perpisahan Rasulullah saw. Hal tersebut tampak dari perasaan, ucapan maupun perbuatan beliau.

Pada hari senin ketika kaum muslimin akan melaksanakan shalat shubuh diimami Abu Bakar, Rasulullah saw membuka tirai rumahnya untuk melihat mereka, beliau tersenyum. Abu Bakar mundur kebarisan shaff shalat, karena dia mengira bahwa Rasul akan menjadi imam shalat. Namun Rasulullah saw melambaikan tangannya dan memberikan isyarat agar mereka meneruskan shalatnya, kemudian beliau masuk kembali ke kamarnya dan menutup tirai rumahnya.

Setelah kejadian itu waktu dhuha, hari senin 12 Rabi’ul Awwal, tahun 11 H, tepatnya usia Nabi Muhammad SAW 63 tahun. Nabi Muhammad saw wafat meninggalkan umatnya pada masa itu. Kesedihan pun saat itu memuncak karena ditinggalkan oleh sang kekasih tercinta yaitu Nabi Muhammad SAW. 

Semoga kita salah satu hamba Allah swt yang mendapatkan syaafatul ujma nanti di yaumil akhir aamiin ya rabbal ‘alamin.


Kisah Nabi Muhammad Membelah Bulan




Salah satu mukjizat luar biasa Nabi Muhammad yang terjadi di bulan Sya’ban dan diingat sepanjang masa adalah peristiwa terbelahnya bulan. Terdapat tentang sebuah ayat Nabi Muhammad membelah bulan dalam hadits dari Anas bin Malik RA berbunyi:

أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ سَأَلُوا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُرِيَهُمْ آيَةً، فَأَرَاهُمُ انْشِقَاقَ الْقَمَرِ فَأَرَاهُمُ الْقَمَرَ شِقَّتَيْنِ حَتَّى رَأَوْا حِرَاءً بَيْنَهُمَا

Artinya: “Sesungguhnya, ahli Makkah pernah meminta kepada Rasulullah SAW supaya memperlihatkan satu tanda bukti kepada mereka. Kemudian, beliau memperlihatkan bulan yang terbelah dua hingga Gunung Hira dapat mereka lihat di antara kedua belahannya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Diceritakan dalam kitab Durratun Nasihin, pada masa itu terdapat seorang raja yang sangat fanatik menyembah berhala, yaitu Habib bin Malik dari Syam. Suatu hari, ia menerima surat dari Abu Jahal yang memberitahukan tentang agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Setelah membaca surat itu, muncullah keinginan untuk bertemu nabi dengan membawa 12 ribu orang ke Makkah. Sesampainya di perbatasan, ia mengirim utusan untuk memberi tahu pada Abu Jahal bahwa dirinya sudah sampai di  al-Abthah (perbatasan Makkah).

Adanya rasa penasaran terhadap Nabi Muhammad SAW, salah seorang dari Bani Hasyim mengatakan bahwa sewaktu kecil, beliau dikenal sebagai anak yang dapat dipercaya, jujur, dan memiliki akhlak mulia. Namun, ketika menginjak usia 40 tahun, ia mulai menyebarkan agama baru yang berbeda dengan keyakinan para leluhur.

Nabi Muhammad SAW mengenakan jubah merah dan surban hitamnya, memenuhi permintaan Raja Habib bin Malik untuk bertemu. Beliau datang ditemani oleh Siti Khadijah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun, sebelum tiba di tempat pertemuan, Khadijah menangis sepanjang perjalanan, khawatir akan keselamatan suaminya. Kekhawatiran tersebut juga dirasakan oleh Abu Bakar.

Setibanya di lokasi, Nabi Muhammad SAW disambut dengan hangat dan dipersilakan duduk di sebuah kursi yang terbuat dari emas. Ketika beliau duduk, wajahnya memancarkan cahaya yang begitu indah dan berkilau, membuat semua yang hadir terpukau dan terpesona menyaksikan keagungan beliau.

Pada saat yang sama, Raja Habib bin Malik mempertanyakan mukjizat Nabi Muhammad SAW, karena nabi sebelumnya juga  memiliki mukjizat. Mendengar hal itu, Nabi Muhammad SAW mempersilakan raja untuk menyampaikan permintaannya terkait mukjizat yang ingin dilihat, kemudian raja meminta kepada Nabi Muhammad SAW  untuk menenggelamkan matahari yang sedang bersinar lalu menggantikannya dengan bulan. Setelah itu, ia meminta bulan tersebut diturunkan ke bumi dan dibelah menjadi dua bagian.

Raja Habib bin Malik meminta agar bulan yang telah dibelah itu dimasukkan ke dalam lengan kanan dan kiri Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia menginginkan Nabi mengeluarkan kembali kedua belahan bulan tersebut dan menyatukannya lagi. Selain itu, ia juga meminta agar Nabi memerintahkan bulan untuk mengakui beliau sebagai Rasul, dan yang terkahir bulan harus dikembalikan ke tempat asalnya di langit. Jika Nabi berhasil melakukan semua itu maka sang raja berjanji akan beriman dan mengakui kenabiannya.

Abu Jahal yang berada di sana, merasa sangat gembira. Ia meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW  tidak akan mampu memenuhi permintaan Raja Habib bin Malik dan melihatnya sebagai kesempatan untuk meragukan kenabian beliau.


Nabi Muhammad berjalan menuju Gunung Abi Qubais dan melaksanakan shalat dua rakaat di sana. Gunung tersebut berdekatan dengan Masjidil Haram, berada searah dengan Hajar Aswad, dan berdekatan dengan Bukit Shafa.

Rasulullah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kemudian berdoa kepada Allah agar permintaan Raja Habib bin Malik dikabulkan. Tiba-tiba, tanpa diketahui oleh orang lain, turunlah 12 ribu malaikat yang menyampaikan salam dari Allah SWT kepada Rasulullah. Para malaikat itu mengatakan bahwa mereka senantiasa mendampingi Nabi, dan bahwa Allah telah menetapkan keputusan-Nya sejak zaman azali.

Para malaikat memintanya untuk menemui raja tersebut guna membuktikan kerasulannya, karena hanya Allah yang mengendalikan matahari dan bulan serta menggantikan siang dan malam. Selain itu, malaikat juga menyampaikan bahwa Raja tersebut memiliki seorang putri yang cacat—tidak memiliki kaki, tangan, dan buta. Namun, Allah telah menyembuhkan putrinya sehingga ia kini bisa berjalan, meraba, dan melihat dengan sempurna, sebagai tanda kekuasaan Allah dan bukti kenabian Nabi Muhammad.


Ketika Rasulullah  menemui  raja, matahari mulai tenggelam, menjadikan suasana semakin remang-remang. Setelah beliau selesai berdoa, bulan terbit dengan cahaya yang terang, lalu terbelahlah bulan menjadi dua bagian. Dengan dua jarinya, Rasulullah memberikan isyarat agar kedua belahan bulan itu turun kepadanya. Disertai suara gemuruh besar sekumpulan awan turut mengiringi turunya bulan ke arah beliau, kemudian masing – masing bagian masuk kedalam lengan Rasulullah sebelah kanan dan kiri seperti apa yang diminta oleh raja.

Selanjutnya  Nabi Muhammad SAW mengeluarkan potongan bulan dari lengannya dan menyatukannya kembali seperti semula. Peristiwa ini membuat semua orang yang menyaksikannya terperangah kagum saat Nabi menggenggam bulan yang bersinar terang. Di saat yang bersamaan, bulan mengeluarkan suara yang jelas: *Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah*, menyaksikan keesaan Allah dan mengakui kenabian Muhammad.

Menyaksikan mukjizat Nabi Muhammad, semua orang terkejut karena yang mereka saksikan bukanlah mimpi, melainkan kenyataan. Raja Habib bin Malik menyadari bahwa keajaiban ini tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa, termasuk mereka yang ahli dalam sihir. Meskipun hatinya masih ragu, ia ingin menguji Nabi lebih lanjut. Sebelum raja bisa berbicara, Nabi memberitahu bahwa putrinya yang cacat telah disembuhkan oleh Allah dan kini menjadi sempurna. Raja terkejut, karena hanya orang-orang terdekat yang mengetahui tentang putrinya. Mendengar hal ini, ia merasa gembira dan mengajak penduduk Makkah untuk meninggalkan agama nenek moyang mereka, lalu mengucapkan kalimat syahadat.

Di sisi lain, Abu Jahal marah dan menganggap itu semua sihir. Ketika tiba di istana, putrinya menyambutnya dengan mengucapkan syahadat, dan tubuhnya kini sempurna. Ia menceritakan bahwa dalam mimpinya, seorang pria tampan memberitahukan bahwa ayahnya telah memeluk Islam, dan jika ia ingin menjadi seorang muslimah, tubuhnya akan sempurna setelah mengucapkan syahadat. Raja pun sujud syukur kepada Allah atas kebesaran-Nya.

Sahabat, begitu besar kuasa Allah, dengan adanya kisah Nabi Muhammad Membelah Bulan telah membuktikan  atas kebesaran-Nya, dimana Allah akan menghendaki segala hal yang Allah hendaki untuk hambanya yang selalu beriman serta bertakwa kepada-Nya.


Sirah Nabawiyah: Perjalanan Hidup Nabi Muhammad SAW








Sirah Nabawiyah adalah kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, yang merupakan teladan sempurna bagi umat Islam. Melalui perjalanan ini, kita dapat memahami lebih dalam tentang ajaran Islam, nilai-nilai moral, dan kepemimpinan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.


Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal di Kota Mekkah, tahun 570 Masehi, yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Beliau berasal dari suku Quraisy, sebuah suku yang sangat dihormati di Mekkah. Ayahnya, Abdullah, meninggal sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, dan ibunya, Aminah, wafat ketika beliau masih kecil. Setelah itu, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian oleh pamannya, Abu Thalib.


Masa Remaja dan Dewasa

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai seseorang yang jujur dan dapat dipercaya, sehingga diberi julukan Al-Amin. Beliau bekerja sebagai pedagang dan sering melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Pada usia 25 tahun, beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda kaya yang banyak mendukung dakwah beliau.

Penerimaan Wahyu dan Awal Dakwah

Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Wahyu tersebut berupa surat Al-Alaq ayat 1-5, yang menjadi awal dari risalah kenabian beliau. Setelah itu, beliau mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi kepada keluarga dan teman-temannya, kemudian secara terbuka kepada masyarakat Mekkah.

Dakwah beliau menghadapi banyak tantangan dan penentangan dari kaum Quraisy. Namun, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya tetap tegar dalam menyebarkan ajaran Islam. Salah satu peristiwa penting dalam periode ini adalah Isra’ Mi’raj, di mana Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Mekkah ke Yerusalem dan naik ke langit untuk menerima perintah shalat.


Hijrah ke Madinah dan Pembentukan Masyarakat Islam

Penindasan yang dialami oleh umat Islam di Mekkah membuat Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya hijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa ini dikenal sebagai Hijrah dan menjadi awal penanggalan Hijriyah. Di Madinah, Nabi Muhammad SAW berhasil membentuk masyarakat yang adil dan damai berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

Beliau menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang mengatur hubungan antara umat Islam dan komunitas non-Muslim. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga memimpin berbagai ekspedisi militer untuk mempertahankan dan memperluas wilayah Islam, termasuk perang Badar, Uhud, dan Khandaq.

Penaklukan Mekkah dan Wafatnya

Pada tahun 630 Masehi, Nabi Muhammad SAW memimpin umat Islam untuk menaklukkan Mekkah tanpa pertumpahan darah. Beliau menunjukkan sifat pemaafnya dengan memberikan amnesti kepada penduduk Mekkah yang sebelumnya menentangnya. Setelah penaklukan Mekkah, Islam semakin berkembang dan banyak suku-suku Arab yang masuk Islam.

Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 632 Masehi di Madinah. Beliau meninggalkan warisan besar berupa ajaran Islam yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia.


Warisan dan Pengaruh


Sirah Nabawiyah tidak hanya mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mengandung banyak pelajaran dan nilai-nilai yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan keteguhan hati yang dicontohkan oleh beliau menjadi teladan bagi umat Islam di seluruh dunia.


Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah, kita dapat mengambil hikmah dari setiap fase kehidupan Nabi Muhammad SAW dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Beliau adalah sosok yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan membawa rahmat bagi seluruh alam. Mari kita terus meneladani beliau dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan sebaik-baiknya.


Kehidupan Sebelum Kenabian

Muhammad (saw) lahir pada tahun 570 menurut kalender Gregorian di kota Mekah. Ia yatim piatu karena ayahnya meninggal sebelum ia lahir.


Ketika berusia enam tahun, ia melakukan perjalanan bersama ibunya, Aminah, ke kota lain bernama Madinah untuk mengunjungi paman-paman dari pihak ibu. Dalam perjalanan kembali ke Mekah, ibunya meninggal dunia di kota yang dikenal sebagai al-Abwaa. Kedua orang tuanya meninggal sebelum ia berusia 7 tahun.


Tak lama kemudian, kakeknya, Abdul Muthalib, menjadi walinya. Namun, hanya beberapa tahun kemudian, kakeknya juga meninggal dunia ketika Muhammad (saw) berusia delapan tahun.


Sebelum mencapai usia 10 tahun, ibu, ayah, dan kakeknya telah tiada. Ia kehilangan kasih sayang orang tua sejak usia sangat muda.


Setelah wafatnya, Muhammad (saw) dibesarkan oleh paman dari pihak ayah, Abu Thalib. Pamannya adalah seorang pemimpin masyarakat yang dihormati di Mekah. Abu Thalib menjadi wali barunya, merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan membantunya tumbuh menjadi pemuda yang baik.


Seiring beranjak dewasa, masyarakat mulai memperhatikannya. Ia membangun reputasi yang baik karena ia gemar menggembalakan domba-domba penduduk Mekah, menjaga harta benda mereka, berkata jujur, bersikap bijaksana, dan memiliki pertimbangan yang matang.


Jauh sebelum kenabian, beliau adalah sosok terbaik di antara umatnya, baik dari segi karakter maupun sikap. Beliau dikenal dermawan, sabar, jujur, dan tulus. Penduduk Mekah mengagumi akhlak mulia beliau dan memberinya gelar al-Amin (yang dapat dipercaya).


Ia kemudian bekerja pada seorang saudagar sukses di Mekah bernama Khadijah. Khadijah dikenal sebagai pebisnis yang ulung. Ia menjadi salah satu agen Khadijah dan akan bepergian atas nama Khadijah untuk berbisnis di Suriah. Khadijah sangat terkesan dengan karakter baik, kejujuran, dan ketulusannya.


Khadijah akhirnya tertarik padanya, dan tak lama kemudian keduanya menikah. Muhammad (saw) menikahi Khadijah pada usia 25 tahun.



Dipilih Sebagai Nabi Allah

Muhammad (saw) menerima wahyu pertamanya saat berada di sebuah gua bernama Hira di pinggiran kota Mekah. Gua ini merupakan tempat yang biasa beliau kunjungi secara rutin untuk retret spiritual dan beribadah. Suatu hari, dalam salah satu retret beliau di tahun 610, saat beliau berusia 40 tahun, malaikat Jibril tiba-tiba muncul di hadapan beliau.

Malaikat itu datang kepadanya dan memintanya untuk membaca. Nabi (saw) menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Nabi (saw) menambahkan, "Malaikat itu menangkapku (dengan kuat) dan menekanku begitu keras sehingga aku tidak tahan lagi. Kemudian dia melepaskanku dan kembali memintaku untuk membaca dan aku menjawab, 'Aku tidak bisa membaca.' Kemudian dia menangkapku lagi dan menekanku untuk kedua kalinya sampai aku tidak tahan lagi. Kemudian dia melepaskanku dan kembali memintaku untuk membaca tetapi sekali lagi aku menjawab, 'Aku tidak bisa membaca (atau apa yang harus kubaca)?' Kemudian dia menangkapku untuk ketiga kalinya dan menekanku, lalu melepaskanku dan berkata,


Peristiwa ini merupakan awal turunnya wahyu, dan juga merupakan momen ketika Muhammad (saw) menjadi Nabi Allah.

Muhammad (saw) meninggalkan gua dan bergegas pulang. Jantungnya berdebar kencang karena takut akan apa yang baru saja dialaminya. Ia segera menemui istrinya, Khadijah, dan menjelaskan apa yang terjadi padanya di gua Hira dengan berkata, "Aku mengkhawatirkan diriku sendiri." Setelah mendengar ini, Khadijah menenangkannya dan berkata:

Demi Allah, Allah tidak akan meninggalkan kalian, karena kalian senantiasa menyambung silaturahmi, menolong orang yang lemah, memuliakan tamu, bersedekah, dan menolong orang yang tertimpa musibah.

Khadijah akan menjadi orang pertama yang menerima Islam.

Tak lama kemudian, Khadijah mengajak Muhammad (saw) menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang beragama Kristen. Ketika Waraqah mendengar kabar tentang peristiwa di Gua Hira, ia pun memberikan penjelasan kepada Muhammad. Waraqah mengatakan bahwa malaikat yang ditemuinya adalah malaikat yang sama yang diutus Allah kepada Musa dengan wahyu. Muhammad kini telah menjadi Nabi Allah, dan seperti para Nabi di masa lalu, sudah menjadi kewajibannya untuk membimbing umat kepada kebenaran. Waraqah berpesan kepada Muhammad untuk bersabar karena sebagian penduduk Mekah akan mengingkari risalah Islam dan menganiayanya.


Waktu di Mekah


Nabi (saw) tinggal di Mekah selama 13 tahun, menyerukan tauhid: menyembah Allah semata tanpa sekutu. Beliau mulai mengajak orang-orang untuk memeluk agama ini secara rahasia dengan sekelompok kecil orang.

Kelompok orang-orang ini sangat dekat dengannya, termasuk kerabat dari suku Quraisy, klan asal keluarga Nabi. Beliau kemudian mulai mengajak banyak orang untuk memeluk Islam, beriman kepada satu Tuhan, dan mengimani beliau sebagai seorang Nabi.

Hanya segelintir umat Islam yang beriman kepada risalah beliau di awal kenabian, dan mereka yang beriman dianiaya oleh penduduk Mekah. Beberapa di antaranya disiksa dan yang lainnya dibunuh. Banyak di antara mereka yang berencana mencelakai umat Islam termasuk anggota suku Quraisy.

Untuk membantu mencegah umat Muslim dari penganiayaan lebih lanjut, Nabi Muhammad (saw) kemudian memerintahkan sebagian umat Muslim untuk bermigrasi ke Abyssinia (sekarang Eritrea dan separuh utara Etiopia). Raja Abyssinia mengizinkan para migran Muslim untuk tinggal di wilayahnya, di mana mereka aman dari bahaya.


Pada tahun 619, paman Nabi, Abu Thalib, wafat. Ini merupakan kehilangan yang sangat besar bagi Muhammad (saw) karena beliau telah membesarkannya setelah kematian orang tuanya. Beliau juga seorang pemimpin masyarakat yang sangat dihormati yang membela Nabi dari penganiayaan kaum Quraisy. Kini setelah pelindung beliau, Abu Thalib, tidak ada lagi, penganiayaan di Mekah semakin meningkat dan intensif.

Pada tahun yang sama, istri tercinta beliau, Khadijah, juga meninggal dunia. Tahun ini dalam kehidupan Nabi dikenal sebagai Tahun Kesedihan karena kehilangan dua orang terkasih.

Meskipun kebencian yang ditunjukkan oleh sebagian penduduk Mekah selama 13 tahun tersebut, jumlah umat Islam terus bertambah dan Islam pun berkembang. Allah terus mengutus Jibril untuk menurunkan lebih banyak ayat Al-Qur'an kepada Muhammad (saw). Nabi kemudian mengajarkan ayat-ayat ini kepada umat Muslim awal.

Pada akhir 13 tahun itu tibalah saatnya bagi Muhammad (saw) untuk meninggalkan Mekah dan mencari rumah baru bagi umat Islam.



Hijrah dari Makkah ke Madinah

Para sahabat Muhammad (saw), umat Islam awal, diperintahkan untuk berhijrah ke kota Madinah. Sebagian dicegah dan tidak mampu berhijrah, sementara yang lain berhijrah secara berkelompok. Yang tersisa dari umat Islam di Mekah hanyalah Nabi sendiri dan dua sahabatnya: sahabat karibnya, Abu Bakar, dan sepupunya, Ali.

Kaum Quraisy berencana membunuh Muhammad (saw) setelah menyadari para sahabatnya telah hijrah ke Madinah. Kaum Quraisy khawatir Muhammad (saw) juga akan hijrah dan agama Islam akan menyebar ke belahan dunia lain. Muhammad (saw) diberitahu oleh malaikat Jibril tentang rencana pembunuhan tersebut. Dengan informasi penting ini, beliau menyusun rencana bersama kedua sahabatnya untuk meninggalkan kota Mekah dengan selamat.

Malam sebelum hijrah dari Mekah ke Madinah, Nabi (saw) tidur di rumah Abu Bakar, bukan di rumah beliau sendiri. Beliau juga menyuruh sepupunya, Ali, untuk tidur di tempat tidurnya malam itu juga dan mengelabui kaum Quraisy agar mengira beliau tidak mengetahui rencana pembunuhan tersebut.

Ketika senja tiba, beberapa anggota Quraisy mengintai di luar rumah Nabi (saw), menunggu beliau keluar untuk membunuhnya. Rencana mereka digagalkan ketika mereka menyadari bahwa Muhammad sudah pergi. Mereka lengah dan orang yang ingin mereka bunuh telah melarikan diri.

Allah telah menyelamatkan Muhammad dari rencana jahat orang-orang ini dan menurunkan ayat-ayat ini:

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir membuat tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengeluarkanmu (dari Mekkah). Mereka benar-benar membuat tipu daya, dan Allah pun membuat tipu daya. Dan Allah adalah sebaik-baik orang yang membuat tipu daya.
Al-Qur'an - Bab 8, Ayat 30

Tak lama kemudian, Nabi (saw) dan Abu Bakar memanfaatkan kesempatan ini untuk meninggalkan Mekah dan menuju Madinah. Ali pun menyusul dan menuju kota baru tersebut tak lama kemudian. Peristiwa penting dalam sejarah Islam ini kemudian dikenal sebagai Hijrah dan juga menandai dimulainya kalender Islam.


Waktu di Madinah


Sudah banyak umat Muslim yang tinggal di Madinah sebelum hijrah terjadi. Saat Nabi tiba di kota itu, umat Muslim yang tinggal di sana sangat gembira. Banyak yang meneriakkan "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar) karena bahagia. Pria, wanita, dan anak-anak keluar dari rumah mereka untuk menyambut beliau.

Setibanya di kota itu, beliau membangun masjid pertama dalam sejarah Islam di kota bernama Quba, yang terletak di pinggiran Madinah. Beliau juga membangun masjid kedua di Madinah.

Pada masa itu, umat Islam selalu menghadap Yerusalem ketika melaksanakan salat. Tak lama kemudian, kiblat salat diubah ke Mekah, kota tempat umat Islam bermigrasi, tempat Kakbah (Rumah Suci) berada.

Rasa persaudaraan yang kuat antara para migran dari Mekah (dikenal sebagai Muhajirin ) dan penduduk Madinah (dikenal sebagai Ansar ) telah dibangun oleh Nabi (saw). Beliau juga membuat perjanjian dengan berbagai komunitas, termasuk kaum Yahudi dan suku-suku yang telah lama tinggal di Madinah.

Selama 10 tahun di Madinah, Nabi (saw) terus menyebarkan dakwah Islam dan ribuan orang memeluk agama tersebut di seluruh Arabia.

Tentu saja musuh-musuhnya di Mekah dan di tempat lain tidak tinggal diam. Umat Islam menghadapi banyak pertempuran penting di tahun-tahun berikutnya, seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Parit di mana kota Madinah dikepung, dan pertempuran-pertempuran lain yang tidak akan dibahas dalam panduan pemula ini.

Salah satu peristiwa terpenting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW pada masa itu adalah Penaklukan Mekah. Setelah tinggal di Madinah selama 8 tahun, kaum Muslim yang berhijrah dari kampung halaman mereka akhirnya dapat kembali. Meskipun penduduk Mekah adalah orang-orang yang sama yang menindas Nabi Muhammad SAW selama bertahun-tahun, Muhammad SAW memasuki kota itu tanpa niat untuk mencelakai siapa pun.

Banyak penduduk Mekah yang dahulu menzalimi umat Islam, mengharapkan pembantaian terhadap mereka. Wajar saja jika kaum tertindas ingin membalas dendam kepada penindas.

Namun, Muhammad (saw) adalah manusia dengan akhlak terbaik. Ketika memasuki kota, beliau menuju Kakbah untuk menyingkirkan semua berhala yang mewakili dewa-dewa palsu mereka. Setelah itu, beliau menyapa penduduk Mekah dan berkata:

“Wahai kaum Quraisy, apa yang kalian pikirkan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Mereka menjawab, “Semuanya baik (yaitu kebaikan dan belas kasihan). Engkau adalah saudara yang mulia dan putra dari seorang saudara yang mulia.”

Kemudian Nabi (saw) memaafkan mereka semua dengan mengatakan:

“Aku berkata kepadamu, seperti yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya, 'Hari ini tidak akan ada celaan yang menimpa kamu.' Pergilah, kamu adalah orang-orang merdeka.”

Dengan Mekah yang telah dikuasai, Islam mampu berkembang lebih pesat hingga sebagian besar wilayah Arab menerima Islam. Kabar baik ini juga menandakan bahwa sudah tiba saatnya bagi Nabi (saw) untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat beliau lakukan: menunaikan ibadah haji.

Ziarah Perpisahan dan Khotbah Terakhir


Nabi (saw) menunaikan ibadah haji pada tahun ke-10 hijrah (migrasi ke Madinah), dan mengajak orang-orang untuk menunaikan ibadah haji bersamanya juga.

Di akhir ibadah haji, ia menarik perhatian orang-orang di dataran Arafah, sebidang tanah di sebelah timur Mekah.

Dia menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan khotbah terakhirnya kepada orang-orang:

Ingatlah, suatu hari nanti kalian akan menghadap Allah dan mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Maka berhati-hatilah, janganlah menyimpang dari jalan kebenaran setelah kepergianku. Wahai manusia, tidak akan ada Nabi atau Rasul setelahku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah sabda yang kusampaikan kepadamu. Aku meninggalkan dua hal, Al-Qur'an dan teladanku, yaitu Sunnah, dan jika kalian mengikuti keduanya, kalian tidak akan pernah tersesat.

Semua orang yang mendengarkanku akan menyampaikan kata-kataku kepada yang lain dan yang lain lagi; dan semoga mereka yang terakhir memahami kata-kataku lebih baik daripada mereka yang mendengarkanku secara langsung. Jadilah saksiku, ya Allah, bahwa aku telah menyampaikan pesan-Mu kepada umat-Mu.Nabi Muhammad (saw)

Pada saat itu Allah menurunkan ayat berikut dalam Al-Quran:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam sebagai agamamu.Al-Qur'an - Bab 5, Ayat 3


Wahyu telah berakhir dan Islam kini menjadi jalan hidup yang utuh bagi seluruh umat manusia. Misi hidup Nabi Muhammad (saw) telah terpenuhi.


Beliau wafat pada usia 63 tahun pada tahun ke-11 kalender Islam.


Para sahabat dan generasi Muslim berikutnya terus menyebarkan agama ini ke seluruh penjuru dunia. Berkat warisan Nabi dan dedikasi generasi Muslim sebelumnya, Islam masih terpelihara dan dipraktikkan hingga saat ini.


Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

MENGENAL NABI NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM


Oleh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab


Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdullah, bin ‘Abdul Muthallib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab adalah termasuk keturunan Nabi Isma’il, putera Nabi Ibrahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.


Beliau berumur 63 tahun, diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi nabi dan 23 tahun sebagai nabi dan rasul.


Beliau diangkat sebagai nabi dengan “Iqra“[1], dan diangkat sebagai rasul dengan surah al-Mudatstsir.


Tempat asal beliau adalah Makkah.


Beliau diutus Allah untuk menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid. Dalilnya, firman Allah Ta’ala.


يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ﴿١﴾قُمْ فَأَنْذِرْ﴿٢﴾وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ﴿٣﴾وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ﴿٤﴾وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ﴿٥﴾وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ﴿٦﴾وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ


“Wahai orang yang berselimut ! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan. Agungkanlah Tuhanmu. Sucikalah pakaianmu. Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu menginginkan balasan yang lebih banyak. Serta bersabarlah untuk memenuhi perintah Tuhanmu“. [al-Mudatstsir/74: 1-7]


Pengertian.


“Sampaikanlah peringatan“, ialah menyampaikan peringatan menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.

“Agungkanlah Tuhanmu“. Agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata-mata.

“Sucikanlah pakaianmu“, maksudnya ; Sucikanlah segala amalmu dari perbuatan syirik.

“Tinggalkanlah berhala-berhala itu“, artinya : Jauhkan dan bebaskan dirimu darinya serta orang-orang yang memujanya.

Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu beliau di mi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.


Hijrah, pengertiannya, ialah : Pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami.


Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat. Dalil yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah Ta’ala.


إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴿٩٧﴾إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا﴿٩٨﴾فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا


“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri[2], kepada mereka malaikat bertanya :’Dalam keadaan bagaimana kamu ini .? ‘Mereka menjawab : Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini ?. Maka mereka itulah tempat tinggalnya neraka Jahannam dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Akan tetapi orang-orang yang tertindas di antara mereka, seperti kaum lelaki dan wanita serta anak-anak yang mereka itu dalam keadaan tidak mampu menyelamatkan diri dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), maka mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah adalah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun“. [an-Nisaa/4 : 97-99]


Dan firman Allah Ta’ala.


يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ


“Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman ! Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka hanya kepada-Ku saja supaya kamu beribadah“.[al-Ankabut/29 : 56]


Al-Baghawi[3]  rahimahullah, berkata :”Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman”.


Adapun dalil dari Sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ الْتَّوْبَةُ وَلاَ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِ بِهَا


“Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat“.[4]


Setelah Nabi Muhammad menetap di Madinah, disyariatkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta syariat-syariat Islam lainnya.


Beliau-pun melaksanakan untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari.


Inilah agama yang beliau bawa : Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan kepada umatnya supaya di jauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah, sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan tidak disenangi Allah.


Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya.


Allah Ta’ala berfirman.


قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا


“Katakanlah. ‘Wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua“. [al-Araaf /7: 158]


Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya untuk kita, firman Allah Ta’ala.


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا


“Pada hari ini[5], telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu ni’mat-Ku serta Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu“. [al-Maaidah/5 : 3]


Adapun dalil yang menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah Ta’ala.


إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ﴿٣٠﴾ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ


“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka-pun akan mati (pula). Kemudian, sesungguhnya kamu nanti pada hari kiamat berbantah- bantahan di hadapan Tuhanmu“. [Az-Zumar/39 : 30-31]


Manusia sesudah mati, mereka nanti akan dibangkitkan kembali. Dalilnya firman Allah Ta’ala.


مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ


“Berasal dari tanahlah kamu telah Kami jadikan dan kepadanya kamu Kami kembalikan serta darinya kamu akan Kami bangkitkan sekali lagi” [Tha-ha/20 : 55]


Dan firman Allah Ta’ala.


وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا ﴿١٧﴾ ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا


“Dan Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya (lagi) dan (pada hari Kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya“. [Nuh/71 : 17-18]


Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan di hisab dan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka, firman Allah Ta’ala.


وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى


“Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik (surga)“.[an-Najm/53 : 31]


Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia adalah kafir.

Firman Allah Ta’ala.


زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ


Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan : ‘Tidaklah demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah“. [at-Taghaabun/64 :7]


Allah telah mengutus semua rasul sebagai penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan.


Sebagaimana firman Allah Ta’ala.


رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ


“(Kami telah mengutus) rasul-rasul menjadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan supaya tiada lagi suatu alasan bagi manusia membantah Allah setelah (diutusnya) para rasul itu ..” [an-Nisaa/4 : 165]


Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam[6], Dan rasul terkahir adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para nabi.


Dalil yang menunjukkan bahwa rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘Alaihissallam, firman Allah Ta’ala.


إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ


“Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya ..” [an-Nisaa /4: 163]


Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan mereka untuk beribadat kepada Allah semata-mata dan melarang mereka beribadah kepada thagut.


Allah Ta’ala berfirman.


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ


“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan) :’Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thagut itu ..”. [an-Nahl/16 : 36]


Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir terhadap thagut dan hanya beriman kepada-Nya.


Ibnu Al-Qayyim[7] rahimahullah Ta’ala, telah menjelaskan pengertian thagut tersebut dengan mengatakan.


اَلطَّا غُوْتُ : مَاتَجَا وَزَبِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُوْدٍ، اَوْ مَتْبُوْعٍ، اَوْمُطَاعٍ


“Thagut, ialah setiap yang diperlakukan manusia secara melampui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti atau dipatuhi“.


Dan thagut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima :


Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah.

Orang yang disembah, sedang dia sendiri rela.

Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.

Orang yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib, dan

Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman.


لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


“Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang terkuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui“. [al-Baqarah/2 : 256]


Ingkar kepada semua thagut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat “Laa Ilaaha Ilallah”.


Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.


رأسُ هَذَا الأَمرِ الإِسلامُ، وعَمُودُهُ الصلاةُ، وذُرْوَةٌ سَنَامِهِ الجِهَادُ في سَبِيلِ اللهِ


“Pokok agama ini adalah Islam[8], dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah“[9].


Hanya Allah-lah Yang Mahatau. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad kepada keluarga dan para sahabatnya.


Footnote

[1] Yakni surah al-‘Alaq/96 : 1-5

[2] Yang dimaksud dengan orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri dalam ayat ini, ialah orang-orang penduduk Makkah yang sudah masuk Islam tetapi mereka tidak mau hijrah bersama Nabi, padahal mereka mampu dan sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir supaya ikut bersama mereka pergi ke perang Badar, akhirnya ada diantara mereka yang terbunuh.

[3] Abu Muhammad Al-Husein bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’ atau Ibnu Al-Farra’. Al Baghawi (436-510H – 1044-1117M). Seorang ahli dalam bidang fiqh, hadits dan tafsir. Di antara karyanya : At-Tahdziib (fiqh), Syarh As-Sunnah (hadits), Lubaab At-Ta’wiil fi Ma’aalim At-Tanziil (tafsir).

[4] Hadits Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 4, hal. 99. Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Al-Jihad, bab 2, dan Ad-Darimi dalam Sunan-nya, kitab As-Sam, bab 70

[5] Maksudnya, adalah hari Jum’at ketika wukuf di Arafah, pada waktu Haji Wada.

[6] Selain dalil dari Al-Qur’an yang disebutkan Penulis, yang menunjukkan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama, di sana juga ada hadits shahih yang menyatakan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama yang di utus kepada penduduk bumi ini, seperti hadits riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al-Anbiya, bab 3 dan riwayat Muslim dalam Shahih-nya kitab Al-Iman, bab. 84.

[7] Abu Abdillah : Muhammad bin Abu Bakar, bin Ayyub, bin Said, Az-Zur’i,Ad-Dimasqi, terkenal dengan Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah (691-751H – 1292 – 1350M). Seorang ulama yang giat dan gigih dalam mengajak umat Islam pada zamannya untuk kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti jejak para Salaf Shalih. Mempunyai banyak karya tulsi, antara lain : Madaarij As-Salikin, Zaad Al-Ma’aad, Thariiq Al-Hijratain wa Baab As-Sa’aadatain, At-Tibyaan fi Aqwaam Al-Qur’aan, Miftah Daar As-Sa’aadah.

[8] Silahkan melihat kembali pengertian Islam yang disebutkan oleh Penulis (silakan baca Mengenal Islam)

[9] Hadits Shahih riwayat Ath-Thabarani dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, dan riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Jaami Ash-Shahih, kitab Al-Imaan, bab 8



7 Nama Anak Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi terakhir dan pemimpin umat Islam, memiliki keluarga yang sangat dekat di hatinya. Di antara anggota keluarganya, tujuh anak beliau memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Meskipun tidak semua anak beliau hidup hingga dewasa, kisah hidup mereka menjadi bagian yang sangat berharga dalam sejarah Islam. Berikut adalah penjelasan tentang tujuh anak Nabi Muhammad SAW:

1. Al-Qasim ibn Muhammad

Al-Qasim adalah anak pertama Nabi Muhammad SAW yang lahir dari istri pertama, Siti Khadijah. Al-Qasim meninggal dunia saat masih sangat kecil, sekitar usia 2 tahun. Kehilangan anak pertama ini sangat menyentuh hati Nabi Muhammad SAW, dan beliau sering disebut dengan julukan "Abu al-Qasim" (Bapak Al-Qasim) karena kedekatannya dengan anak pertama beliau. Al-Qasim adalah simbol kesabaran Nabi dalam menghadapi kehilangan.

2. Zainab binti Muhammad

Zainab adalah anak pertama dari Siti Khadijah dan Nabi Muhammad SAW yang hidup sampai dewasa. Zainab menikah dengan Abu al-As bin al-Rabi, seorang yang awalnya kafir tetapi kemudian memeluk Islam. Zainab dikenal dengan akhlaknya yang mulia dan selalu mendukung ayahnya dalam dakwah. Meski demikian, Zainab menghadapi banyak cobaan dalam hidupnya, termasuk kehilangan anak dan suami yang terluka dalam Perang Badar. Zainab meninggal beberapa waktu setelah ayahnya wafat, dan beliau dimakamkan di Baqi’.

3. Ruqayyah binti Muhammad

Ruqayyah adalah putri kedua Nabi Muhammad SAW dari Siti Khadijah. Beliau menikah dengan Utsman bin Affan, yang kelak menjadi khalifah ketiga dalam sejarah Islam. Ruqayyah dikenal sebagai sosok yang sabar dan penuh kasih sayang. Beliau mendampingi Nabi Muhammad SAW dalam masa-masa yang penuh perjuangan, termasuk pada saat beliau dan suaminya ikut berperang dalam Perang Badar. Sayangnya, Ruqayyah meninggal dunia pada masa-masa awal penyebaran Islam, sebelum ayahnya wafat.

4. Ummu Kultsum binti Muhammad

Ummu Kultsum adalah putri Nabi Muhammad SAW yang ketiga dari Siti Khadijah. Seperti kakaknya Ruqayyah, Ummu Kultsum juga menikah dengan Utsman bin Affan setelah Ruqayyah meninggal. Oleh karena itu, Utsman mendapat julukan "Dua Cahaya" (Zun Nurain) karena beliau menikahi dua putri Nabi Muhammad SAW. Ummu Kultsum juga dikenal dengan kebaikan hati dan ketabahannya. Beliau juga meninggal pada masa yang tidak lama setelah ayahnya wafat.

5. Abdullah ibn Muhammad

Abdullah, yang juga dikenal dengan sebutan "Tayyib" dan "Tayyir", adalah putra Nabi Muhammad SAW dari Siti Khadijah yang lahir setelah kelahiran Al-Qasim. Abdullah meninggal pada usia muda, sebelum beliau mencapai usia baligh. Meskipun usianya sangat singkat, kehadirannya dalam hidup Nabi Muhammad SAW memberikan rasa kebahagiaan, meskipun anak ini akhirnya meninggal saat masih kecil.

6. Fatimah binti Muhammad

Fatimah adalah satu-satunya putri Nabi Muhammad SAW yang bertahan hidup hingga dewasa. Beliau memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam keluarga Nabi. Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Talib, yang kelak menjadi khalifah keempat dalam sejarah Islam. Dari pernikahan mereka lahir dua putra yang terkenal, Hasan dan Husain. Fatimah dikenal sebagai wanita yang sangat mulia, sabar, dan setia mendukung ayahnya dalam perjuangan dakwah Islam. Beliau wafat beberapa bulan setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia.

7. Ibrahim Bin Muhammad

Ibrahim adalah salah satu anak Nabi Muhammad SAW, yang lahir dari istri beliau, Mariyah al-Qibthiyyah, seorang wanita yang diberikan oleh penguasa Mesir kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hadiah. Ibrahim dilahirkan di Madinah, dan beliau merupakan anak yang paling muda dari Nabi Muhammad SAW. Ibrahim meninggal dunia pada usia sekitar 16 hingga 18 bulan.


Kesimpulan

Tujuh anak Nabi Muhammad SAW, meskipun menghadapi banyak cobaan dan ujian dalam hidup mereka, menunjukkan betapa pentingnya peran keluarga dalam menyebarkan pesan Islam. Kehidupan mereka tidak hanya berisi kebahagiaan, tetapi juga penderitaan yang menggambarkan ketabahan dan kesabaran dalam berjuang untuk agama. Mereka menjadi contoh bagi umat Islam tentang pentingnya keteladanan dalam menghadapi berbagai rintangan hidup.


8 Cucu Nabi Muhammad SAW, 



Nabi Muhammad SAW memiliki delapan cucu dari ketiga putrinya. Cucu Nabi Muhammad SAW ini terdiri dari lima laki-laki dan tiga perempuan.

Cucu-cucu Nabi Muhammad SAW ini memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Siapa saja mereka? Ini sosoknya.


Cucu Nabi Muhammad SAW

Dikutip dari buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad: Volume 2 karya Moenawar Khalil, menurut riwayat yang masyhur, terdapat delapan cucu nabi Muhammad SAW, yaitu Ali, Umamah, Abdullah, Hasan, Husein, Mukhsin, Zainab, dan Ummu Kultsum.


Mereka lahir dari tiga putri Nabi Muhammad SAW, yakni Fatimah az-Zahra, Zainab, dan Ruqayyah.

1. Ali bin Abul Ash

Sopian Muhammad dalam buku Manajemen Cinta Sang Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa Ali adalah putra dari Zainab dan Abul Ash. Ali adalah cucu Nabi Muhammad SAW yang menunggang kuda di belakang Nabi Muhammad SAW ketika beliau dan kaum muslimim menaklukkan Makkah.

2. Umamah binti Abul Ash

Masih mengutip dari sumber buku yang sama, bahwa Umamah adalah putri dari pasangan Zainab dan Abul Ash. Ketika kecil, Umamah adalah cucu Nabi Muhammad SAW yang sering digendong olehnya ketika hendak mengerjakan sholat di masjid.

Dalam buku 365 Hari Bersama Sahabat Nabi SAW: Bercengkerama dengan Mereka Setiap Hari yang disusun oleh Biru Tosca, Bukhari meriwayatkan dari Abu Qatadah, "Rasulullah pernah sholat sambil menggendong Umamah. Jika hendak sujud, beliau meletakkannya. Lalu ketika hendak berdiri, beliau menggendongnya lagi."

Nabi Muhammad SAW juga memasangkan kalung mutiara berlapis emas kepada Umamah saat masih kecil.

3. Abdullah bin Utsman

Abdullah adalah putra Ruqayyah dan Utsman bin Affan. Abdullah merupakan cucu Nabi Muhammad SAW yang meninggal ketika berusia sekitar enam tahun.

4. Hasan bin Ali

Hasan adalah putra Fatimah dan Ali bin Abu Thalib. Hasan lahir tahun 3 H dan wafat tahun 49 atau 50 H.

Nurdan Damla dalam buku Mencintai Rasulullah: 365 Hari Bersama Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa Hasan adalah cucu Nabi Muhammad yang sangat mirip dengan beliau. Hasan juga menjadi cucu yang paling disayangi Nabi Muhammad SAW. Setiap beliau mengunjungi Hasan, beliau berkata, "Hasan dan Husain adalah dua permata dalam hidupku."

5. Husain bin Ali

Husain merupakan adik kandung Hasan yang lahir tahun 4 H dan wafat pada tahun 61 H. Sama seperti Hasan, Husain juga menjadi cucu yang paling disayangi oleh Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW sering berdoa untuk Hasan dan Husain, "Ya Allah! Sayangilah mereka sebagaimana aku menyayangi mereka."

6. Muhsin bin Ali

Muhsin bin Ali adalah putra dari Fatimah dan Ali bin Abu Thalib. Muhsin adalah cucu Nabi Muhammad SAW yang lahir tahun 5 H dan wafat tidak lama setelah lahir.

7. Zainab binti Ali

Zainab binti Ali adalah putra dari Fatimah dan Ali bin Abu Thalib. Ahmad Khalil Jam'ah dalam buku Putri-putri Sahabat Rasulullah menyatakan bahwa Zainab adalah cucu Nabi Muhammad SAW yang lahir di Madinah Munawwarah pada tahun 5 H.

Cucu perempuan Nabi Muhammad SAW ini merupakan sosok yang pemberani, tabah, dan mempunyai kedudukan tinggi. Zainab juga menjadi saksi atas wafatnya saudara laki-lakinya, Husain, yang terkena panah dan tombak.

8. Ummu Kultsum binti Ali

Ummu Kultsum adalah saudara kandung Zainab. Ahmad Khalil dalam bukunya juga mengatakan bahwa Ummu Kultsum adalah wanita istimewa yang penuh dengan kemuliaan dan kecerdasan.

Ummu Kultsum adalah istri dari Umar bin Khaththab yang mempunyai keutamaan anggun karena kakek, ayah, dan suaminya ikut hadir dalam Perang Badar.

Dari delapan cucu Nabi Muhammad SAW tersebut, Hasan dan Husain adalah yang paling dikenal dalam Islam. Sebab, keduanya hidup lebih lama daripada cucu lainnya.